Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Teori Konsumsi Individual

Teori Konsumsi Individual

Ini adalah teori ekonomi yang paling dasar dan menjadi landasan pengembangan berbagai teori ekonomi lainnya. Teori ini memiliki tiga sifat dasar, yaitu kelengkapan (completeness), transitivitas (transitivity), dan kontinuitas (continuity). Selengkapnya akan diuraikan di bawah ini (Karim, 2018: 63):

1. Kelengkapan (Completeness)

Sifat ini bermakna seseorang selalu "ku tahu yang ku mau". Dalam bahasa Inggris, ini bermakna seseorang memiliki "complete trust or confidence in something" atau dalam istilah yang lebih populer disebut "faith". Dalam bahasa fikihnya "yakin, keyakinan, iman, dan amantu".

Dalam situasi apa pun, seorang individu selalu dapat menentukan secara pasti apa yang diinginkannya. Misalnya, jika ia dihadapi pada situasi A dan B, maka ia selalu dapat menentukan pilihannya salah satu dari ketiga kemungkinan:
  • A lebih disukai daripada B
  • B lebih disukai daripada A
  • A dan B keduanya sama-sama disukai

Secara matematis, kalimat di atas dapat dirumuskan sebagai berikut: Katakanlah seorang individu menghadapi suatu pilihan konsumsi S dengan barang x dan y. Untuk setiap x, y S
  • x ~ y berarti konsumen sama-sama menyukai keduanya (indifferent)
  • x  y berarti konsumen lebih menyukai x daripada y (strictly prefers)
  • y berarti konsumen lebih menyukai x daripada y atau paling tidak sama-sama meyukai keduanya (weakly prefers)
Untuk semua x, y ∈ S maka selalu ada
x y atau y x (atau keduanya)

2. Transitivitas (Transitivity)

Sifat ini bermakna seseorang selalu "teguh pendirian dan tidak mencla-mencle". Dalam bahasa fikihnya disebut dengan "istiqamah". Jika bagi seseorang "A lebih disukai daripada B dan B lebih disukai daripada C", maka baginya "A harus lebih disukai daripada C".

Asumsi di atas menyatakan bahwa pilihan individu bersifat konsisten secara internal. Secara matematis, kalimat tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut: Katakanlah sorang individu menghadapi suatu pilihan konsumsi S dengan barang x dan y. Untuk setiap x, yS
  • x ~ y berarti konsumen sama-sama menyukai keduanya (indifferent)
  • xy berarti konsumen lebih menyukai x daripada y (strictly prefers)
  • xy berarti konsumen lebih menyukai x daripada y atau paling tidak sama-sama menyukai keduanya (weakly prefers)
Untuk semua x, y, zS, jika xy dan yz
maka xz

Pilihan rasional adalah pilihan yang memenuhi dua sifat dasar, yaitu "ku tahu yang ku mau" dan "tidak mencla-mencle". Dalam bahasa fikihnya "amantu billah tsummastaqim" (Berimanlah kepada Allah dan istiqamahlah).

Secara formal, pilihan rasional adalah pilihan yang memenuhi sifat completeness dan transitivity. Secara matematis disebutkan ≿ pada x dikatakan rasional bila:
Untuk semua x, y S, maka selalu ada x y atau yx (atau keduanya)
dan
Untuk semua x, y, z ∈ S, jika x ≿ y dan yz maka xz

Menurut Kraus (1987), rationality adalah "proses memaksimalkan kepuasan (utility maximization)". Sedangkan morality adalah "proses memaksimalkan kepuasan dengan batasan tertentu (constrained utility maximization)".

Batasan-batasan tersebut beragam. Ketika kita memasukkan batasan bahwa proses memaksimalkan kepuasan harus mempertimbangkan situasi berlainan yang dihadapi (state dependent), misalnya segelas air kelapa dingin lebih disukai pada saat terik matahari dan secangkir jahe hangat lebih disukai pada saat hujan, maka kita akan membahas teori Expected Utility yang dikenal juga sebagai von Neumann Morgensten Utility Function.

Ketika kita memasukkan batasan bahwa proses memaksimalkan kepuasan harus mempertimbangkan reaksi pihak lain, maka kita akan membahas Game Theory (Nash, 1950). Ketika kita memasukkan batasan bahwa proses memaksimalkan kepuasan harus mempertimbangkan kenyataan adanya ketidaklengkapan informasi (incomplete information) dan ketidaksempurnaan informasi (imperfect information), maka kita akan membahas teori Asymmetric Information (Harsanyi, 1967).

Dalam ekonomi Islam, kita memasukkan batasan bahwa proses memaksimalkan kepuasan harus mempertimbangkan kaidah-kaidah syariah, maka kita pun membahas teori Ekonomi Islam. Pendekatan ini dibangun atas dua landasan, yaitu:
  • Hadis: Antum a'lamu bi umuriddunyaakum, yaitu "kalian lebih tahu tentang perkara dunia kalian." [Hadis ini diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Sahih-nya, dalam kitab Al Fadlail, dari riwayat Thalhah, Rafi' bin Khudaij, Aisyah, dan Anas radhiallahu 'anhuma (hadis-hadis no. 2361-2363).
  • Kaidah Fikih: Al-Ashlu fil muamalah al-ibahah illa an yadulla ad-dalilu 'ala tahrimiha, yaitu pada dasarnya semua praktek muamalah boleh, kecuali ada dalil yang mengharamkannya.

3. Kontinuitas (Continuity)

Sifat ini bermakna "tak ada rotan, akar pun jadi". Dalam bahasa fikihnya "maa la yudraku kulluhu, la yutraku kulluhu" (jika tidak dapat melakukan yang baik sepenuhnya, jangan meninggalkan yang baik seluruhnya).

Masih ingat lirik lagu "Penasaran" Rhoma Irama? Atau lagu "If I Can't Get You" Bee Gees? Atau lagu "If Ain't Got You" Alicia Keys? Berikut ini akan disajikan contoh mengenai tidak kontinuitas dan kontinuitas berdasarkan lirik lagu tersebut:

Tidak Kontinuitas Kontinuitas
"Sungguh mati aku jadi penasaran
Sampai mati pun akan kuperjuangkan"
(Penasaran, Rhoma Irama)
"Sungguh mati aku jadi penasaran
Kalu bukan dia, adiknya pun boleh juga"
If I can't have you
I don't want nobody baby
(If I Can't Have You, Bee Gees)
If I can't have you
I want somebody like you
But everything means nothing
If I ain't got you, you, you
(If Ain't Got You, Alicia Keys)
But everything means something
If I ain't got you, you, you

Secara matematis, kalimat di atas dapat dirumuskan sebagai berikut: Katakanlah seorang individu menghadapi suatu pilihan konsumsi S, dengan barang x dan y. Untuk setiap x, y S
  • x ~ y berarti konsumen sama-sama menyukai keduanya (indifferent)
  • xy berarti konsumen lebih menyukai x daripada y (strictly prefers)
  • x y berarti konsumen lebih menyukai x daripada y atau paling tidak sama-sama menyukai keduanya (weakly prefers)
Teori Konsumsi Individual

Penutup

Demikianlah ulasan kita mengenai teori konsumsi individual. Sebagaimana yang telah diuraikan di muka bahwa teori ini menjadi dasar ilmu ekonomi sehingga menjadi sangat penting untuk memahami perkembangannya. Tanpa memahami teori ini, maka kita tidak dapat melanjutkan pembahasan ilmu ekonomi ke tingkat yang lebih tinggi.

Baca Juga: