Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Yuk, Investasikan Hasil dari Tabungan Anda!

Apalah artinya tabungan bila tidak diinvestasikan. Ia hanya menjadi seonggok harta yang tidak berguna. Islam tidak menyukai adanya tindakan penimbunan harta yang sia-sia ini. Di satu pihak, Islam memberikan disinsentif terhadap saving yang tidak diinvestasikan, namun di pihak lain Islam memberikan insentif untuk melakukan investasi. Konsekuensi logis dari investasi adalah munculnya peluang untuk untung dan rugi (Karim, 2018: 123).

Katakanlah seseorang mempuyai harta (Wealth, W) sebesar Rp100 juta. Harta ini dapat digunakan seluruhnya untuk investasi atau sebagainya. Tingkat pemanfaatan harta ini sebut saja 'v'. Bila seluruhnya diinvestasikan maka v = 1, sedangkan bila tidak ada yang diinvestasikan maka v = 0.

Dengan v = 1, katakanlah tingkat return-nya r = 50% atau R = Rp50 juta. Bila diasumsikan skala usaha tidak berpengaruh pada tingkat return yaitu tetap 50%, bila v = 0,5 maka return-nya R = Rp25 juta. Bila dalam menginvestasikan hartanya, ia tidak melakukannya sendiri, misalnya melalui kerja sama bagi hasil mudharabah, maka return ini akan dibagihasilkan berdasarkan nisbah. Secara matematis dapat ditulis:
Y= (πR) vW
di mana:
Y = pendapatan
π = nisbah bagi hasil
v = tingkat pemanfaatan harta
W = harta yang ditabung

Semakin besar pemanfaatan harta (v), semakin besar pula pendapatan (Y).

Hubungan Saving dengan Investment

Secara grafis, v = 1 digambarkan dengan budget line Y dengan tingkat indifference curve IC. Jika seluruh saving tidak diinvestasikan yaitu v', di mana v' < 1, maka budget line menjadi Y' dengan tingkat indifference curve IC', di mana IC' < IC. Apabila tingkat pemanfaatannya lebih rendah lagi yaitu v", di mana v" < v' < v, maka budget line menjadi Y" dengan tingkat indifference curve IC", di mana IC" < IC' < IC.

Jelasnya, bila v < 1 maka konsumen akan berada pada tingkat indifference curve yang lebih rendah. Dengan kata lain, bila seluruh saving tidak digunakan untuk investasi maka konsumen akan berada pada tingkat kesejahteraan yang lebih rendah.

Dampak Keuntungan Investasi terhadap Konsumsi Periode 1 dan 2

Jadi, dengan argumen ilmu ekonomi kita berusaha menjelaskan bahwa salah satu maksud larangan penimbunan harta yang diatur dalam QS At-Takatsur adalah untuk meningkatkan kesejahteraan manusia itu sendiri. Lantas, bagaimana dampak pendapatan keuntungan dari tabungan yang diinvestasikan terhadap perilaku konsumsi pada periode 1 dan 2?

Untuk mempermudah analisis ini, kita asumsikan barang yang dikonsumsi adalah barang normal dan tidak ada perubahan harga, maka besarnya konsumsi pada periode 1 C1 adalah jumlah nominal uang pada periode 1 m1 dikurangi dengan jumlah tabungan yang diinvestasikan S1. Kita asumsikan juga bahwa tingkat nisbah bagi hasil adalah π dan keuntungan investasi adalah R maka jumlah keuntungan dari hasil investasi tersebut adalah πR dan untuk mempermudah kita tuliskan saja rate of profit dari tabungan tersebut adalah πR = rp(S1).

Maka, jumlah konsumsi pada periode 2 adalah:
C2 = m2 + (m1-c1) + rp(S1) → S1 = (m1-c1)
C2 = m2 + (m1-c1) + rp(m1-c1)
C2 = m2 + (1+rp) (m1-c1)

Dengan menginvestasikan tabungan sehingga mendapatkan rate of return sebesar rpS1, maka tingkat kepuasan individu meningkat dari IC1 menjadi IC2. Demikian juga, meningkatnya pendapatan pada periode 2 maka akan berdampak pada berputarnya garis budget line searah jarum jam.

Dengan demikian, titik optimal untuk konsumsi pada periode 2 berada pada titik persinggungan antara BL2 dengan IC2. Sedangkan apabila tabungan yang ada tidak diinvestasikan maka garis indifference akan berada pada garis IC1 dan tentunya pada garis IC1 akan memberikan tingkat kepuasan yang lebih rendah (konsumsi periode 2 lebih rendah dari c2).

Itulah kenapa Islam melarang membiarkan aset yang menganggur dan mendorong agar setiap kekayaan yang ada pada kita untuk diinvestasikan di sektor riil. Di dalam buku Al Ihya, imam Ghazali juga mengecam orang yang menimbun harta dan tidak ditransaksikan atau diputar di sektor riil.

Jika seseorang menimbun dirham dan dinar, ia berdosa. Dinar dan dirham tidak memiliki guna langsung pada dirinya. Dinar dan dirham diciptakan supaya beredar dari tangan ke tangan, untuk mengatur dan memfasilitasi pertukaran... [sebagai] simbol untuk mengetahui nilai dan kelas barang. Siapapun yang mengubahnya menjadi peralatan-peralatan emas dan perak tidak bersyukur kepada penciptanya dan lebih buruk daripada penimbun uang karena orang yang seperti itu adalah seperti orang yang memaksa penguasa untuk melakukan fungsi-fungsi yang tidak cocok -- seperti menenun kain, mengumpulkan pajak, dan lain-lain. Menimbun koin masih lebih baik dibandingkan mengubahnya karena ada logam dan material lainnya seperti tembaga, perunggu, besi, tanah liat yang dapat digunakan untuk membuat peralatan. Tetapi, tanah liat tidak dapat digunakan untuk mengganti fungsi yang dijalankan oleh dirham dan dinar.