Daya Serap Pasar dari Segi Permintaan

Daya serap pasar merupakan peluang pasar yang dapat dimanfaatkan dalam memasarkan hasil produksi dari usaha/proyek yang direncanakan. Sebuah gagasan usaha/proyek yang direncanakan, kendati telah feasible untuk dikembangkan jika dilihat dari aspek teknis, manajemen, keuangan, dan lingkungan, tapi kalau produk yang dihasilkan tidak mempunyai pemasaran maka tidak ada artinya usaha ini dikembangkan (Ibrahim, 2009: 101).

Demikian pula terhadap suatu produk yang telah mempunyai pasaran yang baik di daerah tertentu, belum tentu baik apabila dikembangkan di daerah lainnya. Tidak jarang terjadi sebagian pengusaha di daerah telah mencoba mendirikan beberapa usaha yang berhasil di pulau Jawa dan dikembangkan di daerah lain ternyata mengalami kegagalan karena permintaan (selera konsumen) terhadap produk yang dihasilkan tidak sama. Oleh karena itu, untuk menghitung daya serap pasar dari hasil produksi dapat dilakukan berdasarkan perhitungan atas dasar konsumsi per kapita dan jumlah konsumsi nyata.

1. Permintaan Atas Dasar Konsumsi Per Kapita

Perhitungan yang dilakukan atas dasar konsumsi per kapita perlu memperhatikan bentuk dan sifat usaha/proyek yang direncanakan. Apabila gagasan usaha/proyek yang direncanakan bertaraf nasional, maka permintaannya dihitung berdasarkan pada permintaan secara nasional dan sebaliknya bila gagasan usaha/proyek yang direncanakan bertaraf daerah, maka permintaan yang dihitung juga berdasarkan pada permintaan daerah.

Hal ini perlu mendapat perhatian untuk menghindari kesalahan-kesalahan dalam penentuan jumlah permintaan serta proyeksi-proyeksi yang dilakukan di masa yang akan datang. Perhitungan konsumsi per kapita yang sedang berlaku dapat dilakukan dengan mengadakan penelitian terhadap konsumsi dari produk yang dihasilkan dengan cara membagi jumlah produksi dengan jumlah penduduk.

Berdasarkan pada konsumsi per kapita yang sedang berlaku kita dapat mengetahui apakah gagasan usaha/proyek yang menghasilkan produk tersebut masih mempunyai peluang untuk dikembangkan atau tidak. Apabila konsumsi per kapita yang sedang berlaku masih berada di bawah rata-rata konsumsi riil, keadaan ini menunjukkan bahwa gagasan usaha/proyek yang direncanakan masih mempunyai peluang untuk dikembangkan.

Untuk mendapatkan data konsumsi per kapita riil bisa diketahui melalui beberapa dinas terkait seperti data konsumsi ikan, beras, minyak, semen, tekstil, dan lain sebagainya yang dihitung besarnya sebagai konsumsi per kapita, baik per tahun, per bulan, maupun per hari. Apabila telah diketahui jumlah konsumsi per kapita, berarti jumlah permintaan adalah hasil perkalian antara konsumi per kapita dengan jumlah penduduk.

Terhadap produk yang belum pernah diadakan perhitungannya, konsumsi per kapita dapat dilakukan dengan mengadakan penelitian secara sederhana, baik dengan menggunakan data primer maupun data sekunder. Apabila konsumsi per kapita telah diketahui, untuk mengetahui jumlah permintaan di masa yang akan datang dapat dilakukan melalui proyeksi perkembangan penduduk masing-masing daerah pemasaran dari produk yang direncanakan. Sebagai contoh, data dalam Tabel 1.1 berikut adalah perkiraan jumlah permintaan ikan segar di sebuah kota pada tahun 2009, 2013, dan 2015 yang didasarkan pada jumlah perkembangan penduduk.

Tabel 1.1
Perkiraan Jumlah Permintaan Ikan Segar di Sebuah Kota Tahun 2009, 2013, dan 2015

Tahun Jumlah
Penduduk (Jiwa)
Jumlah
Permintaan (Kg)
2009 179.079 1.343.092
2013 199.634 1.497.255
2015 210.765 1.580.738

Catatan: diketahui jumlah konsumsi ikan di daerah ini 7,5 kg per kapita.

Untuk memperkirakan jumlah permintaan ikan segar selama 5 tahun mendatang, dapat dihitung berdasarkan laju pertumbuhan penduduk rata-rata/tahun dengan menggunakan formula sebagai berikut:

Formula Laju Pertumbuhan Penduduk

di mana:
r = Laju pertumbuhan penduduk rata-rata per tahun
S = Jumlah penduduk pada tahun ke n
P = Jumlah penduduk pada tahun dasar

Rata-rata pertumbuhan penduduk di daerah tersebut adalah sebesar 2,75% per tahun dengan konsumsi ikan per kapita 7,5 kg, maka perkiraan jumlah penduduk dan jumlah permintaan ikan segar selama 5 tahun mendatang seperti terlihat dalam Tabel 1.2 berikut:

Tabel 1.2
Proyeksi Penduduk dan Jumlah Permintaan Ikan Segar Tahun 2016-2020

Tahun Jumlah
Penduduk (Jiwa)
Jumlah
Permintaan (Kg)
2016 216.561 1.624.208
2017 222.517 1.668.878
2018 228.636 1.714.770
2019 234.923 1.761.923
2020 241.384 1.810.380

Untuk mengisi peluang permintaan ikan, banyak faktor yang harus dipertimbangkan, antara lain berapa besar market space yang masih tersedia dan berapa besar market share yang mungkin dapat dimanfaatkan. Di pihak lain, harus dapat diketahui secara pasti berapa banyak jumlah usaha yang ingin memanfaatkan peluang tersebut baik dalam penangkapan ikan, seperti pengadaan boat ikan, pembukaan tambak, maupun proyek-proyek yang bergerak dalam pengawetan ikan seperti cool storage, pengeringan ikan, dan lain sebagainya.

Semakin kecil market share yang diambil dari market space yang tersedia, semakin besar kemungkinan peluang usaha dalam keberhasilan dan sebaliknya semakin besar market share yang diambil dari market space yang tersedia semakin diragukan keberhasilan usaha yang direncanakan. Sebagai contoh, apabila market space yang tersedia sebesar 500 ton ikan dan berdasarkan pada kapasitas peralatan, ikan yang tersedia sebesar 100 ton, berarti hanya sebesar 20% dari market space yang tersedia yang dimanfaatkan dan sebaliknya apabila market share yang direncanakan sebesar 500 ton, tentu keadaan ini akan mengganggu kegiatan usaha apabila masuk usaha sejenis di masa yang akan datang.

Pengambilan keputusan akhir sangat tergantung pada jumlah market share yang mungkin dapat dikuasai serta kemungkinan penguasaan teknik produksi, di samping layaknya usaha tersebut dalam perhitungan analisis finansial. Perlu diketahui bahwa secara umum data proyeksi tidak sepenuhnya sesuai dengan kenyataan, tetapi hasil proyeksi/perkiraan dapat digunakan sebagai dasar untuk menafsir jumlah permintaan atau penawaran untuk masa yang akan datang.

Ada kalanya perbedaan antara data proyeksi dengan data kenyataan mempunyai variasi yang cukup besar. Keadaan ini adalah sebagai akibat dari perubahan dalam pola konsumsi, kenaikan pendapatan per kapita, adanya barang-barang substitusi, dan lain sebagainya.

Untuk mengatasi penyimpangan yang terlalu besar dalam proyeksi, perlu dibuat perkiraan dalam tiga bentuk, yaitu perkiraan normal, perkiraan tinggi, dan perkiraan rendah. Perkiraan normal adalah perkiraan yang didasarkan pada hasil perhitungan, perkiraan tinggi dengan jalan menambahkan perkiraan normal dengan penyimpangan rata-rata tertinggi, dan perkiraan rendah dengan cara mengurangkan antara perkiraan normal dengan penyimpangan rata-rata terendah.

Atas dasar ketiga perkiraan ini, perkiraan di masa yang akan datang ditetapkan (diambil) antara range tertingi dengan range terendah. Dasar penetapan ini dapat dilakukan melalui penilaian sejak dini tentang perubahan pola konsumsi masyarakat, perubahan pendapatan per kapita, melihat adanya barang-barang substitusi, dan lain sebagainya.

2. Permintaan Atas Dasar Jumlah Konsumsi Nyata

Permintaan hasil produksi yang didasarkan pada jumlah konsumsi nyata dapat dihitung dengan cara sebagai berikut:

Permintaan Hasil Produksi yang Didasarkan pada Jumlah Konsumsi Nyata

Dalam beberapa jenis produk, mungkin bisa diketahui jumlah persediaan awal dan persediaan akhir terhadap sesuatu produk yang dihasilkan, bisa ditambahkan selisihnya dalam perkiraan dari konsumsi nyata. Namun demikian, apabila sulit untuk mengetahui jumlah persediaan awal dan persediaan akhir sehingga dalam hal ini tidak perlu diperhitungkan karena ada kecenderungan bahwa persediaan awal suatu masa merupakan persediaan akhir dari masa tersebut.

Konsumsi nyata yang diperhitungkan ini adalah jumlah permintaan dari produk tersebut. Oleh karena itu, dalam melakukan proyeksi terhadap jumlah permintaan dapat dilakukan dengan menggunakan regresi atau trend, maupun menggunakan laju pertumbuhan rata-rata per tahun dari serangkaian data waktu ke waktu, baik mengenai jumlah produksi setempat, jumlah barang masuk, dan jumlah barang yang keluar dari daerah tersebut.

Apabila dalam hal ini mengalami kesulitan untuk menentukan jumlah permintaan di masa yang akan datang, perkiraan permintaan dapat dilakukan dengan melakukan korelasi antara konsumsi suatu barang dengan penggunaan barang lain, seperti konsumsi ikan dengan jumlah pertambahan penduduk, antara jumlah kendaraan bermotor dengan jumlah minyak pelumas yang harus disediakan, antara jumlah batu bata yang diproduksi dengan besarnya kegiatan pembangunan yang sedang dikembangkan di daerah tersebut. Berdasarkan pada hubungan korelasi dan koefisien determinasi antara variabel tersebut, kita dapat menafsir dan memperkirakan jumlah konsumsi nyata dari produksi yang akan direncanakan dan berdasarkan pada hasil perkiraan ini akan ditentukan ada tidaknya peluang usaha yang mungkin dapat dimanfaatkan.

Penutup

Itulah pembahasan kita mengenai daya serap pasar dari segi permintaan. Sebagaimana yang telah diketahui bahwa untuk melihat daya serap pasar dari hasil produksi dapat dilakukan berdasarkan pada perhitungan konsumsi per kapita dan perhitungan jumlah konsumsi nyata. Semoga apa yang telah dijelaskan di atas dapat memberikan manfaat buat kita semua.

Belum ada Komentar untuk "Daya Serap Pasar dari Segi Permintaan"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel