Pengertian Ekspor dan Istilah-istilah Terkait

Pengertian Ekspor dan Istilah-istilah Terkait

Secara definitif, menurut Amir (2004), ekspor adalah barang-barang dari peredaran dalam masyarakat dan mengirimkan ke luar negeri sesuai ketentuan pemerintah dan mengharapkan pembayaran dalam valuta asing. Sementara itu, yang dimaksud dengan kegiatan ekspor ialah upaya pengusaha dalam memasarkan suatu barang atau komoditas yang dikuasainya ke negara atau bangsa asing dengan mendapatkan valuta (mata uang) asing, serta melakukan hubungan komunikasi dan korespondensi dalam bahasa asing pula.

Hampir sama dengan penjelasan tersebut, pengertian ekspor menurut UU Kepabeanan adalah kegiatan mengeluarkan barang dari daerah pabean dengan barang yang dimaksud terdiri atas barang dari dalam negeri (daerah pabean), barang dari luar negeri (luar daerah pabean), serta barang bekas atau baru. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa ekspor ialah proses transportasi barang atau komoditas dari suatu negara ke negara lain (Putra, 2017: 8).

Sering kali, proses ini digunakan oleh perusahaan dengan skala bisnis kecil sampai menengah sebagai strategi utama untuk bersaing di tingkat internasional. Ekspor merupakan alternatif lain dari beberapa bentuk strategi bisnis yang kini umum dilakukan oleh para pengusaha, seperti franchise dan akuisisi.

Namun, strategi ekspor lebih banyak digunakan karena memiliki risiko yang lebih rendah, modal lebih kecil, dan lebih mudah jika dibandingkan dengan strategi lainnya. Tahapan yang harus ditempuh oleh pengusaha yang disebut eksportir, seperti mempromosikan barang dagangannya kepada calon pembeli, mengajukan penawaran harga, membuat kontrak jual beli ekspor, dan mengirimkan barang yang terjual kepada pembeli sampai menerima pembayaran dari pembeli. Dengan demikian, proses perdagangan ekspor itu dapat dibagi menjadi empat tahap berikut:
  1. Proses terjadinya kontrak dagang ekspor (sale's contract process).
  2. Proses pembukuan letter of credit oleh pembeli (L/C opening process).
  3. Proses pengapalan barang (cargo shipment process).
  4. Proses penguangan dokumen pengapalan (shipping documents negotiation process).

Sebenarnya, kegiatan ekspor jauh lebih mudah daripada kegiatan impor. Sebab, berdasarkan fakta, ternyata lebih banyak aturan tentang impor daripada ekspor, terutama terkait pembayaran pajak. Pada kegiatan impor, hampir semua barang dikenakan bea masuk dan pajak impor lainnya, sedangkan saat ekspor lebih banyak barang yang tidak dikenakan pajak ekspor maupun bea keluar.

Untuk pajak ekspor yang dikenakan, antara lain kegiatan ekspor kayu, rotan, dan CPO (crude palm oil). Sedangkan untuk kegiatan ekspor lainnya, saat ini tidak dikenakan pajak ekspor, seperti ekspor ikan, jagung, pisang, pakaian, alat elektronik, dan lain-lainnya.

Ekspor dimulai saat eksportir mempersiapkan barang yang akan diekspor dengan dilakukan packaging, stuffing ke kontainer, hingga barang siap dikirim. Setelah barang siap dan ada jadwal kapal yang akan mengangkut barang tersebut, eksportir dapat mengajukan dokumen kepabeanan yang dikenal dengan istilah pemberitahuan ekspor barang (PEB).

Secara umum, PEB berisi data barang ekspor, seperti data eksportir, data penerima barang, data customs broker (bila ada), sarana pengangkut yang akan mengangkut barang, negara tujuan, serta detail barang, misalnya jumlah dan jenis barang, dokumen yang menyertai, dan nomor kontainer yang dipakai. Setelah PEB diajukan ke kantor bea cukai setempat, Anda akan diberi persetujuan ekspor, sehingga barang bisa dikirim ke pelabuhan, selanjutnya dimuat ke kapal atau sarana pengangkut lainnya menuju negara tujuan.

Setiap dokumen PEB diwajibkan untuk membayar pendapatan negara, bukan pajak yang dapat dibayarkan di bank atau kantor bea cukai setempat. Untuk besaran pajak ekspor, setiap barang juga berbeda-beda, ditentukan dengan keputusan Menteri Keuangan RI.

Setiap barang yang akan diekspor mempunyai aturan tersendiri, tergantung jenis barangnya. Sebagai contoh, untuk barang berupa kayu, kayu yang diekspor memerlukan dokumen laporan surveyor dan endorsement dari Badan Revitalisasi Industri Kayu.

Sedangkan untuk barang tambang, ada yang mensyaratkan menggunakan laporan surveyor. Untuk beberapa barang kategori limbah, ada yang menggunakan kuota. Untuk barang berupa beras, disyaratkan apabila kebutuhan dalam negeri telah terpenuhi dan ada izin dari Bulog.

Namun, banyak juga ekspor tanpa persyaratan atau izin dari instansi terkait, misalnya ekspor sepeda, plastik, sirop, sepatu, kabel, besi, baja, mainan plastik, dan lain-lainnya. Sebelum tahun 80-an, sebagian besar ekspor terdiri atas hasil bumi (seperti karet, kopi, dan kopra), hasil hutan (misalnya rotan, tengkawang, damar, dan pala), serta hasil tambang (berupa timah dan minyak bumi yang sekarang dikenal dengan istilah migas).

Setelah tahun 80-an, sebagian besar ekspor Indonesia terdiri atas hasil-hasil produksi industri atau manufaktur, seperti tekstil, kayu lapis, pakaian jadi, sepatu, alat-alat olahraga, perabot rumah tangga, dan hasil kerajinan rakyat. Sekarang, barang-barang semacam itu disebut komoditas nonmigas.

Ditinjau dari jenisnya, pada umumnya barang-barang ekspor tersebut terdiri atas barang-barang konsumsi dan masih sedikit barang yang tergolong bahan baku, apalagi barang-barang modal. Nah, dari sekelumit penjelasan mengenai pengertian ekspor tersebut, berikut beberapa istilah terkait ekspor yang perlu diketahui:
  1. Daerah pabean, yaitu wilayah Republik Indonesia (RI) yang meliputi wilayah darat, perairan, dan ruang udara di atasnya, serta tempat-tempat tertentu di zona ekonomi eksklusif dan landasan yang di dalamnya berlaku Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang kepabeanan.
  2. Eksportir, yakni perusahaan atau perorangan yang melakukan kegiatan ekspor.
  3. Barang yang diatur ekspornya, yaitu barang yang ekspornya hanya bisa dilakukan oleh eksportir terdaftar.
  4. Barang yang diawasi ekspornya, yakni barang yang ekspornya hanya dapat dilakukan dengan persetujuan Menteri Perindustrian dan Perdagangan RI atau pejabat yang ditunjuk.
  5. Barang yang dilarang ekspornya, yaitu barang yang tidak boleh diekspor.
  6. Barang yang bebas ekspornya, yakni barang yang tidak termasuk pengertian "barang yang diatur ekspornya", "barang yang diawasi ekspornya", dan "barang yang dilarang ekspornya".
  7. Negara kuota, yaitu negara pengimpor TPT yang berdasarkan suatu perjanjian bilateral yang memberlakukan kuota.
  8. Kuota pertumbuhan (KPT), yakni kuota tambahan yang diberikan oleh negara kuota setiap tahun yang besarnya sesuai perjanjian bilateral.
  9. Kuota tetap (KT), yaitu kuota yang dialokasikan setiap tahun yang bersumber dari kuota dasar.
  10. Kuota sementara murni (KSM), yakni kuota selisih antara kuota dasar dengan alokasi KT nasional.
  11. Kuota fleksibilitas (KF), yaitu kuota yang berasal dari kuota tidak terealisasi, pergeseran, pertukaran, penitipan KT, kuota handicraft, sisa KSM, dan SWAP.
  12. Kuota pergeseran khusus (kuota special shift/KSS), yakni kuota yang berasal dari perpindahan antarkategori TPT tertentu yang sesuai perjanjian bilateral.
  13. Kuota pinjaman (KP), yaitu kuota yang dipinjam dari kuota dasar pada tahun berikutnya yang digunakan pada tahun berjalan sesuai perjanjian bilateral.

Selain beberapa istilah tersebut, ada berbagai istilah asing lainnya yang sering kali digunakan dalam kegiatan ekspor, di antaranya sebagai berikut:
  1. Airway bill, yaitu suatu kontrak mutlak yang dikeluarkan oleh perusahaan angkutan udara.
  2. Bill of landing (BL), yakni surat tanda terima barang yang dimuat di atas kapal dan merupakan bukti kepemilikan atas barang, serta perjanjian pengangkutan barang melalui laut.
  3. Invoice, yaitu faktur atau nota yang berisi harga, jumlah barang, dan total harga.
  4. C & F (cost and freight), yakni seluruh biaya produksi dan pengapalannya yang termasuk harga barang.
  5. Clearance, yaitu hak kapal untuk meninggalkan pelabuhan, izin berangkat kapal dari pelabuhan, dan izin mengeluarkan barang dari pabean.
  6. Consignee, yakni nama dan alamat penerima barang atau pembelinya.
  7. FOB (free on the boat), yaitu suatu kewajiban penjual sebatas sampai pelabuhan pengirim.
  8. Packing list, yaitu faktur atau nota yang berisi jumlah dan berat barang (berat bersih dan berat kotor).
  9. Commodity, yakni barang yang merupakan hasil pertanian, namun saat ini disebut produk.
  10. Phytosanitary certificate, yaitu sebuah surat yang dikeluarkan oleh lembaga karantina hewan dan tumbuhan, Departemen Pertanian RI. Proses mendapatkannya melalui serangkaian prosedur dan uji laboratorium agar tidak terjadi penyebaran penyakit antarnegara maupun antarpulau di Indonesia (surat karantina antarpulau).
  11. Weight, yakni berat kotor suatu barang yang menyangkut isi dan pembungkusnya.

Itulah penjelasan singkat tentang pengertian ekspor dan beberapa istilah terkait lainnya. Jika ingin menembus pasar ekspor, maka Anda harus betul-betul memahami berbagai istilah ekspor tersebut. Dengan demikian, dalam pelaksanaannya Anda tidak akan mengalami masalah.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel