Menentukan Komoditas yang Akan Diekspor

Menentukan Komoditas yang Akan Diekspor

Jika Anda ingin memasuki perdagangan (pasar) ekspor, maka Anda harus menentukan terlebih dahulu komoditas yang akan diekspor. Namun, perlu Anda ingat, menentukan komoditas ekspor ini gampang-gampang susah (Putra, 2017:85).

Gampangnya, komoditas apapun dapat diekspor selama dibutuhkan orang. Maka dari itu, komoditas yang Anda miliki atau komoditas yang bisa dipasok oleh produsen berpotensi untuk diekspor. Sulitnya, Anda harus jeli dalam menentukan jenis komoditas yang akan diekspor agar bisa mendatangkan banyak keuntungan.

Oleh karena itu, Anda tidak boleh sembarangan dalam menentukan jenis komoditas tersebut. Boleh jadi, bagi Anda yang sudah lama bergelut dengan dunia bisnis, khususnya bisnis ekspor, komoditas tidaklah terdengar asing.

Ya, komoditas adalah setiap barang atau jasa yang dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen. Sementara itu, konsumen ialah orang yang membutuhkan, menginginkan, dan mampu membeli komoditas yang Anda tawarkan.

Jadi, antara komoditas dengan konsumen bersifat mutualisme (saling membutuhkan dan menguntungkan). Dengan demikian, harus ada nilai tertentu pada suatu benda atau jasa, sehingga bisa memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen.

Paling tidak, ada tiga nilai pada suatu komoditas, yakni manfaat benda atau produk, wujud fisik produk, dan manfaat ikutan. Pertama, manfaat produk. Adapun manfaat yang diberikan oleh suatu produk untuk memenuhi kebutuhan seseorang disebut core product atau generic.

Misalnya, nasi bermanfaat menghilangkan rasa lapar, air bermanfaat menghilangkan rasa haus, koran bermanfaat memberikan informasi, mobil bermanfaat untuk transportasi, dan lipstik bermanfaat menambah kecantikan. Kedua, wujud fisik. Wujud fisik atau penampilan dari suatu produk memegang peranan penting untuk memenuhi keinginan atau selera seseorang.

Wujud fisik itu, seperti desain, tipe, gaya, model, kemasan, dan merek suatu produk. Pada umumnya, wujud fisik dari produk ini juga disebut sebagai tangible atau actual product. Contohnya, Elizabeth Arden adalah merek yang diinginkan untuk lipstik, Poppy Dharsono untuk gaya pakaian wanita, Iwan Tirta untuk desain kemeja batik, dan BMW sebagai lambang untuk mobil bergengsi.

Ketiga, manfaat ikutan dari suatu produk. Adapun yang dimaksud dengan manfaat ikutan adalah jasa tambahan dari suatu produk. Jasa tambahan ini dapat disebut dengan istilah augmented atau extended product.

Misalnya, jika pengrajin rotan mengekspor rotan ke luar negeri, maka kegiatan ini memberikan lapangan kerja baru bagi tukang kayu untuk membuat peti pengepak. Itu juga memberikan tambahan kerja bagi tukang sablon untuk memberi merek pada peti.

Bahkan, ini pun memberikan kemungkinan bagi sopir truk untuk mendapat borongan transportasi, dan seterusnya. Itulah yang dimaksud dengan manfaat ikutan. Dalam dunia ekspor, dikenal dua istilah yang telah dijelaskan sebelumnya, yakni eksportir dan produsen eksportir.

Nah, jika Anda ingin mengekspor kayu, sedangkan Anda sendiri bukan produsen kayu, maka Anda bisa mencari hubungan dengan produsen kayu yang bersedia memasok kayu untuk Anda. Dalam hal ini, Anda sebagai eksportir, bukan produsen.

Selain mendapat langsung dari produsen kayu, Anda juga dapat memperoleh pasokan kayu dari agen. Anda pun bisa mengadakan kontrak dengan keagenan atau menjadi export agent dari produsen kayu tersebut.

Dari dua pilihan ini, terserah Anda mau pilih yang mana. Lantas, komoditas apa yang laku di pasar internasional? Mungkin pertanyaan ini harus menjadi pertimbangan awal Anda sebelum menentukan jenis komoditas yang akan Anda ekspor.

Sebab, pilihan komoditas yang tepat akan memberikan keuntungan besar kepada Anda. Singkatnya, jika memilih komoditas yang dibutuhkan pasar, maka dapat dipastikan Anda akan menuai kesuksesan dari bisnis ekspor Anda.

Sebaliknya, bila Anda keliru memilih komoditas ekspor, Anda justru akan gagal (bangkrut). Maka dari itu, ketahui terlebih dahulu jenis komoditas yang kira-kira laku di pasar internasional. Secara umum, komoditas yang laku di pasar internasional adalah komoditas yang mempunyai daya saing tinggi.

Komoditas memiliki daya saing tinggi jika mutunya (desain, tipe, dan spesifikasi teknis), kegunaannya (function), daya tahannya (durability), harganya (price), waktu penyerahannya (shipment-date), dan pelayanan purna jualnya (after sales service) sesuai selera dan daya beli pembeli di negara tujuan ekspor. Adapun yang dimaksud dengan daya saing adalah kemampuan suatu komoditas untuk memasuki pasar luar negeri dan kemampuan untuk dapat bertahan dalam pasar tersebut.

Daya saing suatu komoditas bisa diukur dari perbandingan pangsa pasar komoditas itu pada kondisi pasar yang tetap. Misalnya, total bola tennis ekspor-impor di pasar Amerika berjumlah 10 juta unit per tahun dan ekspor bola tennis ke Amerika pada tahun yang sama berjumlah 6 juta unit.

Ini menunjukkan bahwa bola tennis Indonesia menguasai 60% pangsa pasar bola tennis impor Amerika. Dengan demikian, daya saingnya sangat tinggi. Sebagai negara yang terletak di daerah tropis, Indonesia mempunyai tenaga kerja yang berlimpah dan murah, sehingga komoditas yang memiliki daya saing tinggi adalah komoditas yang bahan bakunya bersumber dari kekayaan alam tropika, seperti kayu, hasil perkebunan (karet dan kopi), hasil tambang, hasil petro kimia, dan bahan baku wilayah tropis lainnya.

Selain itu, ada pula komoditas hasil kerajinan rakyat, hasil industri padat karya (seperti garmen dan sepati), serta hasil kerajinan kulit lainnya. Menurut para ekonom, komoditas yang mempunyai daya saing tinggi adalah komoditas yang mempunyai keunggulan mutual, keunggulan komparatif, dan keunggulan kompetitif.

Dengan demikian, penentuan komoditas yang akan diekspor merupakan langkah strategis dan taktis yang penting dilakukan sebelum melakukan ekspor. Adapun faktor-faktor yang menentukan tingkat daya saing adalah sebagai berikut:

1. Faktor Langsung

Berbagai faktor langsung adalah sebagai berikut:

a. Mutu Komoditas

Mutu komoditas ditentukan oleh beberapa faktor berikut:
  1. Desain atau bentuk dari komoditas yang bersangkutan atau spesifikasi teknis dari komoditas tertentu.
  2. Fungsi atau kegunaan komoditas bagi konsumen.
  3. Durability atau daya tahan dalam pemakaian.

Dengan demikian, pada dasarnya mutu komoditas ditentukan oleh komposisi nilai seni dengan nilai teknis, serta selera pemakai.

b. Biaya Produksi dan Penentuan Harga Jual

Pada umumnya, harga jual ditentukan oleh salah satu dari tiga pilihan berikut:
  1. Biaya produksi ditambah mark-up (margin keuntungan).
  2. Disesuaikan dengan tingkat harga pasar yang sedang berlaku.
  3. Harga dumping (plus/minus subsidi).

2. Faktor Tidak Langsung

Beragam faktor tidak langsung adalah sebagai berikut:
  • Kondisi sarana pendukung ekspor, seperti sarana perbankan, transportasi, birokrasi pemerintahan, surveyor, dan bea cukai.
  • Insentif atau subsidi pemerintah untuk ekspor.
  • Kendala tarif dan nontarif.
  • Tingkat efisiensi dan disiplin nasional.
  • Kondisi ekonomi global, seperti resesi dunia, proteksionisme, restrukturisasi perusahaan (modernisasi), dan regroupage global (kerja sama ekonomi global).

Lantas, bagaimana cara meningkatkan daya saing komoditas ekspor Anda di tingkat internasional? Menurut Amir M.S., ada beberapa cara yang dapat dilakukan guna meningkatkan daya saing komoditas ekspor, di antaranya:
  1. melakukan evaluasi dan perbaikan dari semua faktor daya saing secara berkesinambungan, baik faktor langsung maupun faktor tidak langsung,
  2. melakukan penelitian dan pengembangan teknologi sendiri, selain intensifikasi alih teknologi dan membeli teknologi, serta
  3. mengeksploitasi berbagai keunggulan nasional menggunakan teknologi ciptaan sendiri.

Itulah cara praktis yang dapat Anda lakukan untuk meningkatkan daya saing komoditas Anda di tingkat internasional. Dengan demikian, komoditas ekspor Anda akan "mengaum di kandang singa". Selain memperhatikan daya saing komoditas, pada umumnya komoditas yang akan diekspor haruslah memenuhi syarat-syarat tertentu, seperti berikut ini:
  1. Mempunyai daya saing tinggi dibandingkan komoditas serupa dari negara lainnya.
  2. Setiap peralatan (tools and equipment) dilengkapi petunjuk pemakaiannya (instruction manual).
  3. Setiap komoditas diberi warna, ukuran, dan bentuk sesuai selera konsumen setempat.
  4. Setiap komoditas sebaiknya dilengkapi sertifikat mutu atau setidaknya sertifikat dari pabrik yang membuatnya.
  5. Seyogianya, setiap komoditas memenuhi ketentuan tentang merek, kemasan layak laut, dan label yang mungkin diminta oleh negara pembeli.
  6. Setiap peralatan teknis, listrik, dan elektronik sebaiknya dilengkapi surat keterangan pengujian teknis dari lembaga yang berwenang.
  7. Untuk komoditas tertentu, seperti mainan anak-anak serta bahan makanan dan minuman, haruslah memenuhi persyaratan kesehatan dan keamanan yang diminta oleh negara tertentu, misalnya Federal Drug Administration (FDA) dari Amerika Serikat.
  8. Untuk komoditas pertanian, perkebunan, dan peternakan, dilengkapi surat keterangan karantina tanaman atau binatang sebelum diekspor, seperti pythosanitary certificate, veterinary certificate, health certificate, dan lain sebagainya.
  9. Untuk mendapatkan fasilitas dalam rangka sistem preferensi umum, Anda diwajibkan melengkapi komoditas ekspor dengan surat keterangan negara asal barang (SKA).
  10. Setiap pengusaha yang ingin mengekspor dianjurkan untuk mulai melakukan standarisasi dari komoditas yang diproduksinya. Standarisasi itu dapat dimulai dengan standar dari perusahaan sendiri, disusul dengan standar nasional (SII-SP), dan standar dari ISO. Perlu Anda ketahui, ada banyak produk Indonesia ditolak oleh pembeli di luar negeri karena standar mutu produk ekspor tidak memenuhi standar mutu internasional. Oleh karena itu, Anda harus betul-betul memperhatikan masalah standar mutu produk ini.

Penutup

Demikianlah penjelasan singkat tentang tata cara menentukan komoditas ekspor. Semoga hal-hal tersebut dapat membantu Anda dalam menentukan komoditas yang akan Anda ekspor ke luar negeri, baik komoditas itu hasil sendiri maupun komoditas yang dipasok oleh perusahaan lain.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel