Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Faktor-faktor yang Memengaruhi Perencanaan Karier

Faktor-faktor yang Memengaruhi Perencanaan Karier

Melalui perencanaan karier, seseorang mengevaluasi kemampuan dan minatnya, mempertimbangkan kesempatan karier alternatif, menyusun tujuan karier, dan merencanakan aktivitas pengembangan praktis. Dalam perencanaan dan pengelolaan karier yang efektif, sejumlah faktor yang memengaruhi perencanaan karier yang perlu dipahami oleh karyawan dalam merencanakan kariernya dan oleh organisasi dalam membantu karyawannya untuk merencanakan serta merealisasikan kariernya meliputi (Marihot Tua, 2005):

1. Tahapan-tahapan Kehidupan Karier

Tahapan-tahapan karier dalam organisasi merupakan tahapan waktu dan usia seseorang sejak memasuki organisasi hingga usia pensiun, kecenderungan tahapan-tahapannya yang berkaitan dengan pencapaian tujuan karier dan apa yang sebaiknya dilakukan organisasi dalam setiap tahapan untuk membantu karyawan dalam perencanaan kariernya. Karena perencanaan karier merupakan tanggung jawab individu, maka yang dilakukan individu dalam upaya pengembangan karier meliputi tahapan-tahapan, yaitu (Sunyoto, 2014):

Entry Stage

Entry stage merupakan tahap mulai memasuki organisasi, yaitu waktu seseorang baru memasuki suatu organisasi sebagai karyawan baru. Jika dikaitkan dengan usia, umumnya mereka berusia duapuluhan tahun. Pada tahap ini, karyawan akan bertanya apakah keahliannya dapat diterapkan di sini (perusahaan)? Apakah pekerjaannya menyenangkan? Apakah dia akan diterima oleh rekan kerja? Apakah dia dapat berkembang dan mencapai tujuan kariernya di sini sesuai dengan minat, keterampilan, dan pengetahuan yang dimiliki?

Mastery Stage

Mastery stage adalah tahap di mana seseorang karena pengalaman atau keahlian yang sudah didapat menginginkan jabatan baru yang biasanya lebih tinggi atau lebih menarik dan menantang. Pada tahap ini dapat terjadi dua kemungkinan yang disebut achievement stage dan mid career stage.

Achievement stage, biasanya pada usia 30 s/d 40 tahun yang ditandai dengan keinginan seseorang untuk berprestasi dan ingin menaiki jabatan yang lebih tinggi dalam organisasi. Kemudian mid career stage, biasanya usia 40 s/d 55 tahun dan ditandai dengan keinginan untuk penilaian kembali kariernya dan motivasi kerja juga sudah menurun.

Keberhasilan pada tahap ini, karyawan tidak lagi diukur dengan promosi jabatan yang lebih tinggi, tetapi diukur dengan tugas-tugas yang lebih menarik, menantang dan penting, serta kesempatan-kesempatan untuk mendapatkan pengetahuan baru. Ada tiga kemungkinan sebagai alasan dari kecenderungan di atas, yakni:
  • Kesempatan karier yang lebih sempit. Dengan bertambahnya usia, kesempatan karier yang dimiliki seseorang akan berkurang. Hal ini diakibatkan perusahaan lebih condong kepada karyawan yang lebih muda.
  • Perubahan pandangan terhadap karier. Akibat usia yang lebih tua, seseorang mungkin akan menilai kembali mengenai tujuan kariernya yang memang tidak terlepas dari rencana hidupnya, misalnya seseorang akan merenungkan hakikat tujuan hidupnya dan disesuaikan dengan pekerjaan.
  • Ketidakpastian mengenai karier. Tujuan karier seseorang memang tidak pernah lepas dari tujuan hidupnya. Jabatan yang lebih tinggi belum tentu menjamin memecahkan tujuan-tujuan atau masalah-masalah hidupnya.

Passage Stage

Dulu, tahap ini dikatakan masa karyawan mempersiapkan pensiun yang terjadi pada usia di atas 55 tahun, sehingga karyawan tidak lagi berpikir untuk naik jabatan atau beralih ke jabatan lain. Tetapi, pada masa sekarang akibat faktor-faktor terjadinya lebih banyak oleh pemutusan hubungan kerja, baik sebagai akibat dari situasi ekonomi maupun karena pemecatan dan banyaknya faktor yang memengaruhi karier seperti tersedianya pekerjaan di luar organisasi dan kesempatan pendidikan yang didapat.

2. Jangkar Karier

Jangkar karier menurut Edgar Shein merupakan poros yang di sekelilingnya karier seseorang berputar sebagai akibat dari pengetahuan yang dimiliki, motif, nilai, dan sikapnya. Jangkar karier seseorang merupakan sesuatu yang bersifat evolutif, melalui proses penemuan diri sendiri sampai pada keputusan untuk memilih satu pilihan karier yang sesuai dengan keinginannya.

Dikemukakan oleh Edgar Shein bahwa ada lima jangkar karier yang dapat dipilih seseorang berkaitan dengan suatu organisasi bisnis, yaitu:
  1. Jangkar karier fungsional atau teknik, adalah kecenderungan untuk menghindari keputusan-keputusan yang mendorong mereka pada manajemen umum, sebagai gantinya mereka memilih kedudukan yang memampukan mereka untuk berkembang dalam bidang teknik atau fungsional.
  2. Jangkar karier manajerial, adalah kecenderungan seseorang untuk memilih jabatan yang memampukan mereka atau mencari jalan untuk menjadi manajer umum dengan tanggung jawab yang lebih besar, sehingga jika ketika memilih jalur karier, kemungkinan mereka lebih menyukai vertical system.
  3. Jangkar karier kreativitas, adalah kecenderungan seseorang yang memiliki motivasi kuat untuk menciptakan sesuatu sehingga ia mendapatkan pengakuan.
  4. Jangkar karier ekonomi dan kemandirian, adalah kecenderungan seseorang yang tidak mau tergantung pada orang lain. Jika mereka dipromosikan menjadi bawahan, mereka menjadi kurang tertarik. Biasanya, mereka lebih memilih menjadi konsultan fungsional tertentu.
  5. Jangkar karier keamanan, adalah kecenderungan untuk memilih karier yang memiliki stabilitas jangka panjang dan keamanan jabatan. Mereka ingin melakukan apa yang disyaratkan untuk memelihara keamanan jabatan, satu pendapatan yang layak serta masa depan yang stabil dan pasti.

3. Jalur Karier

Jalur karier merupakan urutan jabatan-jabatan yang dapat diduduki dan harus diduduki untuk mencapai tujuan karier seseorang. Terdapat beberapa sistem jalur karier, yaitu vertical system, trunk and branch system, planned job rotation system, dan diamond system.

Vertical System

Vertical system adalah jalur karier yang dapat dilalui dalam satu fungsi melalui hierarki. Misalnya seseorang ketika memasuki organisasi mulai sebagai karyawan biasa dalam satu bidang tertentu seperti bagian pemasaran, kemudian bisa naik menjadi kepala seksi periklanan, asisten manajer pemasaran, manajer pemasaran sesuai dengan sistem hierarki yang ada dalam organisasi, atau dari karyawan biasa, kepala seksi, kepala bagian, kemudian kepala biro.

Kelebihan sistem ini adalah:
  • Karyawan memiliki langkah-langkah promosi yang jelas.
  • Jika organisasi berkembang, karyawan memiliki kesempatan promosi.
  • Manajer atau pimpinan memahami tugas-tugas bawahan sebab sebelumnya atasan tersebut telah menduduki jabatan tersebut yang dapat bermanfaat buat mereka, dan dapat membina bawahan dengan baik.

Kelemahan sistem ini adalah:
  • Jika organisasi tidak berkembang, kesempatan promosi menjadi terbatas.
  • Ada persaingan antarkaryawan dalam perebutan posisi yang terbatas.
  • Terbatasnya kesempatan promosi.

Trunk and Branch System

Sistem ini mengibaratkan saat memanjat pohon, seseorang harus melalui dahan-dahan yang kadang-kadang tidak langsung naik ke atas. Kelemahan sistem ini adalah karyawan memiliki jalur karier lebih banyak yang dapat mengakibatkan kebingungan dan ketidakpastian.

Sedangkan kelebihan dari sistem ini adalah:
  • Karyawan dapat menyesuaikan keinginan mereka pada kesempatan yang lebih banyak.
  • Karyawan mendapatkan pengalaman yang lebih banyak.

Planned Job Rotation System

Hampir sama dengan trunk and branch system, bedanya adalah organisasi melakukan perencanaan yang teliti mengenai pengalihan seseorang dari satu jabatan sebelum menduduki jabatan tertentu. Ini biasanya dilakukan pada organisasi yang berada dalam lingkungan yang cepat berubah dan membunuh inovasi.

Diamond System

Sistem ini biasanya dilakukan dalam organisasi yang kegiatannya didasarkan pada proyek-proyek tertentu atau dalam struktur adhocracy. Sistem ini berbeda dengan sistem lain di mana jalur karier lebih banyak menyamping dan hanya sedikit yang naik ke atas. Kesempatan dari jalur karier di sini lebih banyak menyamping misalnya dari profesional menjadi manajer proyek, kemudian dapat beralih ke resource manager dan menjadi ahli strategi.

Penutup

Demikianlah ulasan tentang faktor-faktor yang memengaruhi perencanaan karier. Perencanaan karier penting karena konsekuensi keberhasilan atau kegagalan karier terkait erat dengan konsep diri, identitas, dan kepuasan setiap individu terhadap karier dan kehidupannya.